Robot-robot Pertanian Karya Mahasiswa Mejeng di Bandung

Posted on Posted in Kerjasama, Liputan Media

Avitia Nurmatari – detikfinance

Selasa, 02/07/2013 15:23 WIB

Robot Penyiram Tanaman

Bandung – Teknologi robot bisa memudahkan dan memberi manfaat lebih bagi kehidupan manusia. Salah satu pemanfaatan teknologi robot juga bisa diterapkan di sektor pertanian.

Pengembangan teknologi robot tersebut dipamerkan dalam rangkaian acara International Conference on Biodiversity Climate Change and Food Security di Grand Hotel Panghegar, Jalan Merdeka, Selasa (2/7/2013).

Pada stand pameran bertajuk ‘Robot for Agriculture’ tersebut dipamerkan sejumlah karya robot seperti alat penyemai benih, robot pemberi pupuk, robot penyiram tanaman, hingga pesawat pemantau lahan persawahan.

Menurut Managing Director dari Next System, Christianto Tjahyadi mengatakan, ide awal pengembangan robot for agriculture ini tujuannya untuk mengaplikasikan teknologi sebagai salah satu solusi memecahkan masalah pertanian. Diharapkan dengan menggunakan teknologi robot, bisa mengefisiensi kegiatan industri pertanian dan meningkatkan ketahanan pangan.

“Departemen pertanian ingin memiliki suatu solusi teknologi untuk pertanian. Kami sebagai mitra teknis turut membantu untuk menyeleksi dan memantau tim yang ikut bergabung dalam eksibisi ini,” kata Christ selaku mitra teknis Departemen Pertanian dalam pengembangan robot for agriculture.

Pameran robot ini diikuti oleh empat kampus yakni Maranatha, STIMIK Bandung, Unikom, ITB, dan satu komunitas robot yakni Padepokan Robot Bandung. Setiap tim memiliki konsep robot sendiri namuan harus memiliki manfaat yang nyata untuk diimplementasikan pada industri pertanian.

“Karena konsep robotik itu walaupun sederhana tapi berguna. Jadi ide nggak harus muluk tapi bisa diimplementasikan,” ujarnya.

Gagasan-gagasan dari peserta tersebut, lanjut Christ memang baru sebatas model awal dan belum dibuat seperti nyata karena keterbatasan waktu.

“Ke depan diharapkan ada tindak lanjut yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya. Biasanya kan selama ini terbentur dana, tapi melihat situasi ini semoga Deptan menyediakan pos tersendiri untuk pengembangan robot for agriculture ini,” tutupnya.

(avi/hen)

Sumber: http://finance.detik.com/read/2013/07/02/152333/2290321/1036/robot-robot-pertanian-karya-mahasiswa-mejeng-di-bandung

Green Bird Menjerit Jika Mendeteksi Polutan

Posted on Posted in Liputan Media

Sirene “Green Bird” berbunyi. Menandakan keberadaan polutan udara yang membahayakan tubuh manusia. “Tuit..tuit..tuit,” begitu suarat yang dikeluarkan robot mungil pendeteksi polusi udara ini ketika mendeteksi adanya gas yang keluar dari sebuah korek pemantik api. Sumber gas disingkirkan dan robot pun kembali bergerak mencari polutan-poluatn lain yang mungkin masih ada di sekitarnya.

Begitulah cara kerja robot hasil karya Michelle Emmanuella (15), Jocelyn Olivia (13), dan Fairuuz (13). Dengan kreativitasnya, tiga siswa yang masih duduk di bangku SMP ini menciptakan robot yang mampu mendeteksi beradaan polutan berbahaya di udara. Dengan dibantu seorang mahasiswa, Michelle, Jocelyn, dan Fairuuz berkreasi membuat robot sederhana dengan fungsi yang luar biasa.

“Begitu ada polusi yang membahayakan dia akan berbunyi. Bisa gas karbondioksida, gas karbonmonoksida, gas elpiji, asap kebakaran, beberapa gas lain seperti metana juga bisa,” kata Michelle saat ditemui di Padepokan Robot Next System Jln. Baranang Siang Bandung, Senin (27/6).

Bentuk robot bernama Green Bird ini, menurut Michelle, dibuat sesederhana mungkin. Bahkan body robot hanya terbuat dari sebuah toples plastik kecil sementara kepala robot terbuat dari mangkuk plastik.

“Kenapa dinamai Green Bird karena tujuannya untuk kepedulian lingkungan dan bentuk kepalanya yang dibuat menyerupai burung,” tutur siswi SMP Trimulia yang akan melanjutkan studinya ke SMA Aloysius ini.

Pembuatan robot ini, kata Michelle, relatif mudah. Bahkan beberapa bahannya dibuat sendiri di Padepokan Next System, dan hanya sensornya yang merupakan produk impor. “Yang susah ya programnya, tapi menyenangkan dan nantinya bisa terus ditambah dengan beberapa kecerdasan lainnya,” tuturnya.

Sementara itu, Jocelyn menuturkan, robot ini sangat memungkinkan untuk dipakai di lingkungan sekitar manusia. Misalnya berpatroli keliling kompleks perumahan atau ditempatkan di pusat-pusat kepadatan kendaraan bermotor. “Sudah dicoba di beberapa tempat. Di sekitar rumah, di jalan raya. Seperti di Pasteur. Pada jam-jam padat robotnya langsung berbunyi,” ucap siswi SMP BPK Penabur ini.

Menurut Jocelyn, robot ini bisa dioperasikan dalam dua mode. Mode otomatis dan mode manual. Robot Green Bird ini juga dilengkapi dengan kemampuan jelajah. Artinya, dia bisa mencari sumber polutan yang dideteksi. “Misalnya ada kebocoran gas atau kebakaran. Dia bisa menemukan dan mencari sumbernya dimana,” tuturnya.

Sementara itu, pendiri Padepokan Next System, Christianto Tjahyadi, menuturkan, hasil-hasil karya semacam inilah yang memang dibutuhkan agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan manusia. Apalagi kreasi Green Bird ini cukup sederhana dan bisa dilengkapi dan disempurnakan dengan berbagai fungsi lain yang akan lebih bermanfaat.

“Bentuknya bisa diperbesar. Fungsinya pun bisa ditambah. Bukan hanya mendeteksi tetapi juga menakar kadar polutan yang dideteksi,” ungkapnya.

Green Bird ini, kata Chris, baru versi awal dengan bentuk dan fungsi sederhana. Targetnya, selain kecerdasannya ditambah, nantinya robot ini juga bisa merekam data dan mengirimkan data polutan beserta nilai takarannya ke komputer.” Biayanya pasti akan lebih besar karena harus menambah sensor-sensor lagi. Kalau untuk yang ini relatif murah, tidak sampai Rp. 500.000,” ungkapnya. (Nuryani/”PR”)***

Wow, 2 Siswi Bandung Ciptakan Robot Pengukur Udara

Posted on Posted in belajar robot, Liputan Media
Oleh: Ageng Rustandi
Senin, 27 Juni 2011 | 18:31 WIB
INILAH.COM, Bandung – Michelle Emmanuella (15) dan Jocelyn Olivia (13), dua siswa binaan Next System Robotic Learning & Experience System berhasil menciptakan robot yang mampu mengukur kualitas udara.

“Konsep awal dari pembuatan robot ini adalah ikut kontribusi dalam penerapan Go Green di Kota Bandung dan bentuknya dengan mengukur kualitas udara,” ungkap Managing Director Next System Robotic Learning & Experience System Christianto Tjahyadi saat ditemui wartawan di ITC Kosambi, Jalan Baranangsiang Kota Bandung, Senin (27/6/2011).

Robot yang diberi nama Green Bird ini dilengkapi dengan sensor yang mampu mendeteksi gas-gas berbahaya bagi manusia, di antaranya, asap kebakaran, knalpot, elpiji, propana, dan karbon monoksida.

Selain itu, kelebihan lain dari robot Green Bird ini yakni menggunakan material lokal, mulai dari bodi, hingga material lainnya. “Yang menggunakan bahan impor hanya sensor karena kita sendiri masih sulit untuk membuatnya,” tambahnya.

Robot Green Bird ini merupakan robot prototipe dan bisa diaplikasikan di dalam kehidupan manusia. Biaya untuk pembuatan robot ini sendiri tergolong cukup murah dengan menghabiskan dana sekitar Rp 500 ribu.

“Untuk ke depan kita akan menambah kecerdasan robot. Di antaranya dengan menambah sensor jarak sehingga robot terhindar tabrakan, kemudian hasil pemantauan robot terkait kadar udara bisa dikirim dari robot ke komputer,” tandasnya. [gin]

Sumber: inilah.com atau inilahjabar.com

Dalam Tiga Hari Bisa Membuat Robot

Posted on Posted in Liputan Media

CHRISTIANTO Tjahyadi (kanan) menunjukkan cara kerja robot-robotnya di padepokan kawasan Baranangsiang Kota Bandung, Sabtu (14/8). Menurut Chris, Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mengembangkan dunia robotik ini.* NURYANI/”PR”

Membuat robot ternyata tidak serumit yang dipikirkan banyak orang. Tidak perlu kuliah empat tahun atau pelatihan berbulan-bulan kalau sekadar ingin membuat robot cerdas. Cukup meluangkan waktu tiga hari, siapa pun bisa merakit dan menghasilkan sebuah robot.

Padepokan robot Next System adalah salah satu tempatnya. Di tempat inilah semua orang yang tertarik dengan robot bisa memperoleh pelatihan bagaimana membuat robot dengan cara yang mudah dan sederhana. “Sebetulnya tidak sulit, dalam tiga hari pun siapa saja bisa membuat robot. Artinya dia bisa membuat program, merakit, sampai akhirnya membangun sebuah robot sesuai dengan keinginan pembuat dan membawa pulang robot tersebut,” kata penggagas padepokan, Christianto Tjahyadi saat ditemui di lokasi pelatihan, Sabtu (14/8).

Menurut Chris, Indonesia sebenarnya punya potensi besar untuk mengembangkan dunia robotik ini. Bahkan, tidak perlu mengimpor robot-robot produksi luar negeri untuk memenuhi kebutuhan robot para pegiat robot termasuk sekolah dan perguruan tinggi. “Sayangnya belum banyak orang yang peduli dan berkonsentrasi di bidang ini. Padahal seperti di sini, saya bisa memproduksi robot-robot dengan bahan lokal. Tidak perlu beli robot Lego dari negara lain, kita juga bisa. Harga sudah pasti jauh lebih murah dan yang penting perawatannya mudah. Bandingkan dengan lego yang ketika rusak tidak bisa diapa-apakan lagi, padahal itu investasi,” ujarnya.

Chris menambahkan, pelatihan robotik semacam ini sebenarnya tidak hanya diperuntukkan bagi siswa, guru, dan kalangan akademisi. Para profesional dan orang tua juga bisa mempelajari cara merakit robot. “Ada robotic for kids, for teacher, for parents, dan robotic for family. Bahkan beberapa waktu lalu kami juga sempat melatih para profesional muda di sebuah perusahaan besar. Sebab dengan robot ini kita belajar menyelesaikan masalah, analisis, hingga solusi,” tuturnya.

Salah satu peserta pelatihan dari SMAN 1 Gadingrejo Lampung, Jumiran mengatakan dirinya bersama tiga siswanya sengaja datang ke Bandung untuk belajar lebih banyak mengenai robot.

“Ya mumpung libur juga dan sekalian dalam rangka persiapan menuju Kontes Robot Nasional tingkat SMA Oktober nanti. Pelatihan semacam ini cocok sekali untuk siswa dan saya berharap di sekolah nanti bisa membuka ekskul khusus robotik,” katanya. Salah seorang siswa, Ramadhan Aditya, mengaku sangat senang bisa belajar banyak hal dari pelatihan di Kota Bandung. (Nuryani/”PR”)***

Sumber: H.U. Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2010

Robotika di Daerah Mulai Menggeliat

Posted on Posted in Liputan Media

Bandung – Anggapan robotika hanya menjadi konsumsi masyarakat kota besar tampaknya akan runtuh. Sebabnya, sekolah-sekolah di daerah di luar kota besar sudah mulai menggeliat. Virus robotika telah menyebar ke beberapa kota kecil termasuk di luar Pulau Jawa.

Adalah NEXT SYSTEM Robotic Learning Center yang getol menularkan virus robotika. Tak hanya di kota besar, kota-kota kecil seperti Tegal, Klampok dan beberapa kota di Jabar serta luar Pulau Jawa mulai berdatangan ke markas besar NEXT SYSTEM yang berada di ITC Kosambi, Ruko F2, Jalan Baranangsiang 6-8, Bandung.

Program yang bernama Robotic Camp for Teacher menjadi andalan NEXT SYSTEM untuk mewariskan ilmu robotika ke guru-guru.

“Program ini sudah berjalan selama 2 tahun. Dan memang targetnya adalah pengajar. Baik guru, dosen atau instruktur robot di learning center,” papar Christianto Tjahyadi, Managing Director NEXT SYSTEM Robotic Learning Center saat berbincang dengan detikINET, Senin (14/6/2010).

Selama pelatihan, peserta mendapatkan pengetahuan dasar tentang robotika. Mulai dari bagaimana robot bekerja, menggunakan sensor, menyinergikan gerakan robot dengan sensor serta bagaimana robot bisa diperintah untuk melakukan suatu pekerjaan.

“Mereka belajar dasarnya. Pulang dari sini tinggal kreativitas mereka untuk menggali lagi kemampuannya,” ungkapnya.

Salah satu peserta pelatihan tersebut, Gagah Manunggal Putra, dari SMP Negeri 7 Tegal, mengaku motivasi pihaknya mengikuti pelatihan tersebut karena memiliki misi untuk mengenalkan robotika di Tegal.

Peserta Kelas Robotik dari SMPN 7 Tegal dan SMAN 1 Klampok Peserta Kelas Robotik dari SMPN 7 Tegal dan SMAN 1 Klampok

Gagah Manunggal Putra, S.Kom (SMPN 7 Tegal), Puput Gunadi, S.S. (SMAN 1 Klampok) dan Drs. Akhmad Murtadho (SMPN 7 Tegal) di kelas Robotics for Teacher, 7-9 Juni 2010.

“Tegal belum ada robotika. Sudah saatnya Tegal bicara tentang robotika,” kata pria yang mengajar TIK ini.

Bagi Gagah, robotika merupakan satu pelengkap dalam menerapkan konsep ‘4R in Education’. Konsep ini yang kemudian menjadi salah satu motivasi pihaknya mengejar ilmu ke Bandung.

“Kita ingin menjadikan ‘4 R in Education’ berlaku di sekolah kami. Reading, writing, arithmetic dan ditambah satu lagi yakni robotic. Karena dengan robotika, anak didik kita diajar lebih logis, matematis serta teliti. Ini yang akan menjadi bekal mereka nantinya,” katanya optimis.

Ditanya tentang kendala finansial yang selama ini selalu menjadi kendala bagi sekolah-sekolah, bahkan di kota besar sekalipun dalam mengembangkan robotika, Gagah mengaku bahwa di daerah, kendala tersebut tidak ada.

“Justru di daerah kami tidak mengalami kendala tersebut. Kalaupun tidak ada dana, kita bisa cari sponsor. Buktinya keberangkatan kita juga mendapat restu dari Pemkot Tegal. Yang penting kita optimis dan punya keyakinan bahwa robotika menjadi nilai tambah bagi kita semua,” tegasnya.

Sumber: detik.com

Liputan NEXT SYSTEM oleh TV One

Posted on Posted in Liputan Media

Liputan NEXT SYSTEM Robotics Learning Center oleh TV OneRobotik bukan sekedar mempelajari produk robot. Robotik adalah ilmu pengetahuan. Untuk itu, mereka yang mempelajari robotik seyogyanya memahami hal ini sehingga tidak terkunci pada perangkat robot yang digunakannya ketika belajar.

Itulah isu yang diangkat NEXT SYSTEM dalam perbincangan dengan koresponden TV One sore ini di kantor NEXT SYSTEM, Bandung.

Selain isu pendidikan, beberapa anak yang berlatih di NEXT SYSTEM Robotics Learning Center, pun mendapat kesempatan wawancara.

Robot Bukan Keagungan Teknologi Semata

Posted on Posted in Liputan Media

Sabtu, 15 Mei 2010 | 14:48 WIB

Oleh Cornelius Helmy

Sang Saka Merah Putih berkibar lagi dalam ajang Robogames 2010 di San Mateo County Event Center, Amerika Serikat, 24-25 April. Robot DU-114 buatan Universitas Komputer Indonesia menjadi juara dunia dalam kategori Open Firefighting Autonomous Robot.

Setahun lalu, versi awal DU-114 merebut medali emas untuk kategori yang sama. Robot pemadam kebakaran yang dibidani Yusrila Kerlooza dan Rodi Hartono itu berhasil menaiki tangga, menemukan, dan memadamkan titik api lebih cepat dari peserta lain.

“Menjadi luar biasa karena kami bersaing dengan negara pengembang teknologi yang sudah sangat maju, seperti Amerika dan Inggris,” ujar Yusrila.

Prestasi lain diraih tim Divisi Robotika Unikom dalam Kompetisi Robot Indonesia dan Kompetisi Robot Cerdas Indonesia (KRI-KRCI) Regional II-2010. Tiga robotnya meraih juara pertama di semua kategori KRCI. DU 114 V10 juara di kategori Senior Beroda, DU 116 di Senior Berkaki, dan DU 99-V2 pada Expert Battle.

Pengalaman yang sama diraih Next System, lembaga penyelenggara program pelatihan mikrokontroler dan robotik. Hingga Mei ini enam gelar juara diraih tim binaannya. Beberapa di antaranya adalah tim SDK Trimulia (juara 1 dan 2 kategori Junior 1 T-Rex 2010), tim SMPK Trimulia (juara 2 kategori Junior 2 T-Rex 2010 serta juara 1, 2, dan 3 kategori Senior T-Rex 2010), dan tim Foxhound (juara 2 Robotic Day 2010).

“Sebelumnya, tim Vini Vidi Vici berhasil meraih medali perak kategori Maze Solving kelompok umur 13-18 tahun di South East Asia Robotics Olympiad 2009,” ujar Managing Director Next System Christianto Tjahyadi.

Bukan tujuan akhir

Akan tetapi, meski telah meraih prestasi dunia, mereka sepakat tujuan akhir pengembangan robot saat ini tidak sekadar mengejar prestasi. Robot hanyalah sarana untuk tujuan lain yang lebih mulia. Yusrila berharap kemampuan membuat robot bisa digunakan mahasiswa sebagai bekal masa depannya. Mereka tidak semata-mata bisa membuat robot, tetapi juga menanamkan sikap disiplin, sabar, rajin, dan mampu bekerja dalam tim untuk semua jenis aktivitas.

“Sejak membidani Divisi Robotika Unikom pada 2005, saya lebih sabar berhadapan dengan orang lain. Bahkan saya menjadi lebih teliti dalam mengajarkan beragam hal,” katanya.

Christianto mengatakan, proses pembuatan lebih penting ketimbang mempelajari robot yang sudah jadi. Alasannya, banyak hal penting yang bisa dijadikan pelajaran dalam beragam kegiatan. Ia mencontohkan Robot Edukasi buatan Next System. Robot Edukasi bisa membawa siswa lebih memahami pelajaran di sekolah, seperti menghitung diameter roda untuk Matematika, belajar bahasa pemrograman di mata pelajaran komputer, serta menghitung gerak dan momentum benda yang ada dalam mata pelajaran Fisika.

Pembuatan robot juga bisa berfungsi sebagai alat latih psikologis melalui praktik kerja sama tim. Hal itu terbukti dengan banyaknya perusahaan yang menggunakan jasa pembuatan robot sebagai materi utama kegiatan outbound. Bahkan pembuatan robot telah dijadikan alat terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus. “Ketakutan masyarakat saat ini adalah robot menggantikan tugas manusia. Namun, lebih dari itu, teknologi dalam robot justru bisa membantu manusia menyelesaikan beragam hal sulit,” kata Christianto yang peserta pelatihannya berasal dari Aceh hingga Makassar.

Dosen pembimbing Unikom di KRI-KRCI 2010, Taufiq Nuzwir Nizar, juga berharap agar terciptanya robot bukan tujuan akhir pembuatnya. Pembuatnya harus mempertimbangkan unsur keuntungan lain yang didapat dalam proses pembuatannya.

“Setidaknya ada dua keuntungan yang didapat ketika memilih aktivitas pembuatan robot. Selain teliti dan disiplin, seseorang akan mengerti teknologi pembuatan robot yang nanti pasti berperan besar membantu aktivitas manusia,” ujar Taufiq.

Robot Edukasi: Teman Belajar Anak

Posted on Posted in Bermain Robotika, Liputan Media, Pelatihan Robotika, Pemberitaan Media, Pemrograman Robot, robot edukasi

CHIP 11/2009 – Brand “Robot Edukasi” dikembangkan oleh NEXT SYSTEM Robotics Learning Center. Sejak robotika menjadi tren di kalangan anak-anak dan sekolah, kebutuhan akan perangkat robot meningkat. Sayangnya, pasar perangkat robotika diisi oleh produk-produk impor berharga mahal. Robot ini lalu dikembangkan agar anak-anak dan sekolah berbujet yang terbatas juga bisa mencicipi asyiknya merakit dan memprogram robot.

“Sesuai namanya, robot ini memang ditujukan untuk pembelajaran robotika,” kata Christianto. Robot ini mulai diperkenalkan pada awal 2008 dan memiliki beberapa varian. Tiap varian dijual dalam satu set – ada yang sudah terakit, ada yang masih terurai komponennya. Saat ini, Robot Edukasi telah di-distribusikan di Aceh hingga Makassar.

Paket Robot Edukasi sudah disertai dengan program yang dapat di-install sendiri oleh penggunanya. Pemrogramannya menggunakan bahasa familiar, seperti BASIC, C dan Pascal, serta mendukung sistem operasi Windows, Linux dan Macintosh.

Robot Edukasi tampil dalam rupa mobile robot (robot beroda). Menurut Christianto, mobile robot adalah yang paling mudah dibangun dan dipelajari. Selain itu, banyak aplikasi robot bisa dikembangkan dari mobile robot. Contohnya, line following robot (penjejak garis), light seeking robot (pencari sumber cahaya), obstacle avoidance (yang bisa menghindari penghalang), remote controlled robot dan sound activated robot.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Robot Edukasi, silahkan menghubungi:

NEXT SYSTEM
Robotics Learning Center
ITC Kosambi F2
Jl. Baranang Siang 6-8
Bandung 40112
Tel. (022) 4222062, 70775874

Email: info@nextsys.web.id

Ketika Demam Robot Menyerang

Posted on Posted in Liputan Media

GATRA No.48 / 8-14 Oktober 2009 – Mereka tentu tidak sedang merangkai bunga. Tapi, “Jauh-jauh datang kemari hendak belajar merangkai robot,” kata Adi, guru SMP Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Guru ilmu komputer itu sudah empat hari mengikuti pelatihan robot di kantor Next System di Bandung. Next System dikenal sebagai perusahaan yang memberikan program pelatihan mikrokontroler dan robotika untuk umum.

Adi berharap, pelatihan ini dapat menjadi penunjang belajar para siswanya. “Robotika mesti dikuasai para siswa,” kata Adi.

Ternyata, peserta yang dapat tak hanya anak-anak SD. Para pehobi robot, masyarakat umum, hingga ibu-ibu rumah tangga pun bermunculan. Next System bahkan khusus membuat program pelatihan “Robotics for Families” untuk menampung peserta ibu rumah tangga. “Pesertanya memang beragam, dari anak umur delapan tahun hingga dewasa 50 tahun. Klien kami juga berasal dari Aceh hingga Makassar,” ujar Managing Director Next System, Christianto Tjahyadi.

Next System juga menawarkan paket kerjasama dengan berbagai lembaga pendidikan, juga menyelenggarakan program untuk guru dan keluarga. Tiap program dirancang khusus sesuai dengan karakter dan keinginan peserta. Kelas anak-anak, misalnya, difokuskan pada pengenalan dasar robotik dan kreativitas. “Tiap kelas, pesertanya maksimal 6 orang. Di sini, mereka dapat membentuk robot sesuai dengan kreasinya,” kata Christianto.

NEXT SYSTEM
Robotics Learning Center
ITC Kosambi F2
Jl. Baranang Siang 6-8
Bandung 40112
Tel. (022) 4222062, 70775874

Email: info@nextsys.web.id